mirror of
https://github.com/wangdage12/Snap.Metadata.git
synced 2026-06-15 19:04:51 +08:00
6.6
This commit is contained in:
@@ -697,7 +697,7 @@
|
||||
]
|
||||
}
|
||||
],
|
||||
"Display": 0
|
||||
"Display": 1
|
||||
},
|
||||
"Id": 1302201,
|
||||
"Name": "Universal Naturalist Archive",
|
||||
@@ -801,6 +801,7 @@
|
||||
"BirthMonth": 5,
|
||||
"BirthDay": 23,
|
||||
"VisionBefore": "Geo",
|
||||
"VisionOverrideLocked": "Moon Wheel",
|
||||
"VisionOverrideUnlocked": "Moon Wheel",
|
||||
"ConstellationBefore": "Alcyon",
|
||||
"CvChinese": "周侗",
|
||||
@@ -1126,7 +1127,7 @@
|
||||
},
|
||||
{
|
||||
"Title": "Kisah Karakter 5",
|
||||
"Context": "Pada awalnya hanyalah sebuah firasat yang samar.\n\"Bu Guru Linnea, kok tahu saya mau bertanya ini?\"\n\"Ahaha ... mungkin karena pengalaman?\" Dia tertawa kikuk, perasaan gelisah berkecamuk dalam hatinya.\nHingga saat dia mengalami mimpi ramalan tersebut untuk pertama kalinya selama Sayembara Duta Jiwa, Linnea akhirnya mengetahui faktanya. Dia berasal dari klan Burung Pertanda, sejenis peri yang dapat meramalkan takdir yang tak dapat diubah.\n\"Kitalah yang membaca pertanda bencana juga bahagia, kitalah yang melihat masa lampau serta masa depan. Dunia takut dan gentar pada kita, sementara kita membenci keberadaan ini.\"\nDi mata orang lain, ini merupakan talenta yang sangat berharga. Namun, bagi Burung Pertanda itu sendiri, kemampuan ini lebih seperti kutukan.\nYang memberi tahu Linnea tentang fakta ini adalah kakaknya, Celaeno. Selama ini dia sendirian menanggung ramalan di tundra beku. Melihat Linnea tumbuh dalam lingkungan yang terlindungi dan tanpa beban, rasa sakit yang mendalam muncul di hatinya. Dia percaya bahwa pada akhirnya, saudara perempuannya itu harus membayar harga dari sebuah proses kedewasaan.\nNamun, Linnea tidak tenggelam dalam keputusasaan seperti yang dibayangkan kakaknya. Meskipun merasa takut terhadap masa depan yang sudah diketahui, dia memberikan jawaban yang mengharukan kakaknya.\n\"Garis akhir memang ada di depan sana, tapi jalan menuju ke sana ada banyak.\"\nHidup harus dijalani di setiap momen pada masa kini, bukan hanya dengan menunggu suatu hari di masa depan. Takdir memang tidak dapat diubah, tapi yang juga sama dengan itu adalah cinta dari orang tua kandung, serta ikatan persaudaraan yang telah ditakdirkan.\nSayang, waktu perpisahan datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Keesokan pagi setelah kompetisi berakhir, peluit kapal pulang sudah bergema di dermaga.\nSaat Celaeno hendak naik ke kapal, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa dan teriakan dari belakangnya.\n\"Kak ... tunggu!\"\nKarena berlari kepanikan, sayap kecil di kepala Linnea menjadi berantakan, sementara tumpukan besar bungkusan yang dipegangnya dalam pelukannya tampak hampir jatuh.\n\"Eh? Bukannya kita sudah pamit dan berpisah setelah lombanya beres?\"\n\"Hehe. Kemarin ya kemarin, hari ini aku mau ketemu kamu lagi! Untung masih sempat, ini ... ini ... sama yang ini semuanya kamu bawa ya!\"\nLinnea langsung menyodorkan bungkusan-bungkusan itu ke pelukan Celaeno yang masih paham tidak paham dengan situasinya.\n\"Ini buat Papa Mama kita, ini buatmu ... terus yang ini, boleh nitip buat orang tua asuhku dan putrinya?\"\n\"Ini kebanyakan kali?\" Celaeno tertawa geli sambil melihat tumpukan hadiah yang hampir menutupi pandangannya, \"Kamu mau aku jadi kurir pindahan kota Nasha?\"\n\"Ah, ini sedikit kali!\" Linnea dengan saksama membantunya memperbaiki posisi kotak teratas, \"Hadiah buat waktu yang sudah tahunan masa cuma sedikit! Lagian ... kalau kita enggak bisa bareng-bareng, paling tidak biarkan hatiku yang menemanimu pulang.\"\nPeluit kapal kembali berbunyi, menandakan sudah waktunya berpisah.\nSaat sosok Linnea menyusut menjadi titik kecil di pantai, barulah Celaeno mengalihkan pandangannya. Dia meraih surat yang terselip di antara tumpukan berkas. Amplopnya masih tidak tersegel. Sepertinya pengirimnya agak terburu-buru sampai belum sempat menyegelnya.\n\"Untuk Kakakku sayang,\nBukannya kamu baru saja bilang kalau nanti aku kangen, aku tinggal tulis surat untukmu? Nah, jadi sekarang langsung kutulis deh. Sayang banget waktumu mepet, tadinya aku mau ajak kamu keliling Nod-Krai sampai puas. Misalnya, kita bisa lihat-lihat Nocturnal Blossom ... Aku suka banget bunga ini, bunga ini punya dua warna kelopak, satu warna biru dan satu merah muda, seperti kita jadinya, hehe. Oh iya, sebenarnya aku juga tadinya mau mengajakmu jalan-jalan ke Clink-Clank Krumkake Craftshop, di sana ada banyak benda yang menarik, meskipun kalau dekat tempat itu tubuhku selalu gemetar ... Siapa tahu kalau kamu sampai di sana, kamu juga bakal kaget seperti aku dulu, kan kita kakak beradik! Aku berharap banget kamu bisa tinggal lebih lama, tapi ya sudah deh, toh kita masih punya banyak waktu lain dan akan terus saling menyertai melewati banyak fase kehidupan. Di lubuk hatimu, namaku tidak mungkin terlewat, kan? Kita berdua adalah anak dari Burung Pertanda, beban ramalan yang terpikul di bahu memang cukup berat, tapi untungnya, mulai hari ini kita bisa saling berbagi beban, ya Kak.\"\nCelaeno melipat surat itu dan mengangkat kepalanya sambil bersandar pada pagar.\nDi atas langit biru, burung-burung laut yang tertarik oleh suara peluit kapal terus terbang tanpa henti."
|
||||
"Context": "Pada awalnya, itu hanyalah sebuah firasat yang samar.\n\"Bu Guru Linnea, kok tahu saya mau bertanya ini?\"\n\"Ahaha ... mungkin karena pengalaman?\" Dia tertawa kikuk, perasaan gelisah berkecamuk dalam hatinya.\nHingga saat dia mengalami mimpi ramalan tersebut untuk pertama kalinya selama Sayembara Duta Jiwa, Linnea akhirnya mengetahui faktanya. Dia berasal dari klan Burung Pertanda, sejenis peri yang dapat meramalkan takdir yang tak dapat diubah.\n\"Kitalah yang membaca pertanda bencana juga bahagia, kitalah yang melihat masa lampau serta masa depan. Dunia takut dan gentar pada kita, sementara kita membenci nasib ini.\"\nDi mata orang lain, ini merupakan talenta yang sangat berharga. Namun, bagi Burung Pertanda itu sendiri, kemampuan ini lebih seperti kutukan.\nYang memberi tahu Linnea tentang fakta ini adalah kakaknya, Celaeno. Selama ini dia sendirian memikul beban ramalan di tundra beku. Melihat Linnea tumbuh dalam lingkungan yang terlindungi dan tanpa beban, rasa sakit yang mendalam muncul di hatinya. Dia percaya bahwa pada akhirnya, saudara perempuannya itu harus membayar harga dari sebuah proses kedewasaan.\nNamun, Linnea tidak tenggelam dalam keputusasaan seperti yang dibayangkan kakaknya. Meskipun merasa takut terhadap masa depan yang sudah diketahui, dia memberikan jawaban yang mengharukan kakaknya.\n\"Garis akhir memang ada di depan sana, tapi jalan menuju ke sana ada banyak.\"\nHidup harus dijalani di setiap momen pada masa kini, bukan hanya dengan menunggu suatu hari di masa depan. Takdir memang tidak dapat diubah, tapi yang juga sama dengan itu adalah cinta dari orang tua kandung, serta ikatan persaudaraan yang telah ditakdirkan.\nSayang, waktu perpisahan datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Keesokan pagi setelah kompetisi berakhir, peluit kapal pulang sudah bergema di dermaga.\nSaat Celaeno hendak naik ke kapal, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa dan teriakan dari belakangnya.\n\"Kak ... tunggu!\"\nSaat itu, yang dilihat Celaeno adalah Linnea. Sayap mungilnya kusut karena berlari panik, sementara setumpuk bungkusan di pelukannya seakan bisa jatuh kapan saja.\n\"Eh? Bukannya kita sudah pamit dan berpisah setelah lombanya beres?\"\n\"Hehe. Kemarin ya kemarin, hari ini aku mau ketemu kamu lagi! Untung masih sempat, ini ... ini ... sama yang ini semuanya kamu bawa ya!\"\nLinnea langsung menyodorkan bungkusan-bungkusan itu ke pelukan Celaeno yang masih kebingungan mencoba memahami situasinya.\n\"Ini buat Papa Mama kita, ini buatmu ... terus yang ini, boleh nitip buat orang tua asuhku dan putrinya?\"\n\"Ini kebanyakan kali?\" Celaeno tertawa geli sambil melihat tumpukan hadiah yang hampir menutupi pandangannya, \"Kamu borong seluruh kota Nasha, ya?\"\n\"Ah, ini sedikit kali!\" Linnea buru-buru membantunya memperbaiki posisi kotak teratas, \"Hadiah buat waktu yang sudah tahunan masa cuma sedikit! Lagian ... kalau kita enggak bisa bareng-bareng, paling tidak biarkan hatiku yang menemanimu pulang.\"\nPeluit kapal kembali berbunyi, menandakan sudah waktunya berpisah.\nSaat sosok Linnea menyusut menjadi titik kecil di pantai, barulah Celaeno mengalihkan pandangannya. Dia meraih surat yang terselip di antara tumpukan berkas. Amplopnya tidak tersegel. Sepertinya pengirimnya agak terburu-buru sampai belum sempat menyegelnya.\n\"Untuk Kakakku sayang,\nBukannya kamu baru saja bilang kalau nanti aku kangen, aku tinggal tulis surat untukmu? Nah, jadi sekarang langsung kutulis deh. Sayang banget waktumu mepet, tadinya aku mau ajak kamu keliling Nod-Krai sampai puas. Misalnya, kita bisa lihat-lihat Nocturnal Blossom ... Aku suka banget bunga ini, bunga ini punya dua warna kelopak, satu warna biru dan satu merah muda, seperti kita jadinya, hehe. Oh iya, sebenarnya aku juga tadinya mau mengajakmu jalan-jalan ke Clink-Clank Krumkake Craftshop, di sana ada banyak benda yang menarik, meskipun kalau dekat tempat itu tubuhku selalu gemetar ... Mana tahu kamu juga bakal kaget seperti aku dulu, kan kita kakak beradik! Aku berharap banget kamu bisa tinggal lebih lama, tapi ya sudah deh, toh kita masih punya banyak waktu lain dan akan terus saling menyertai melewati banyak fase kehidupan. Di lubuk hatimu, namaku tidak mungkin terlewat, kan? Kita berdua adalah anak dari Burung Pertanda, beban ramalan yang terpikul di bahu memang cukup berat, tapi untungnya, mulai hari ini kita bisa saling berbagi beban, ya Kak.\"\nCelaeno melipat surat itu dan mengangkat kepalanya sambil bersandar pada pagar.\nDi atas langit biru, burung-burung laut yang tertarik oleh suara peluit kapal terus terbang tanpa henti."
|
||||
},
|
||||
{
|
||||
"Title": "The Golden Beagle",
|
||||
|
||||
Reference in New Issue
Block a user